Minggu, 05 Desember 2010

laporan Identifikasi gulma melalui klasifikasi tanaman

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Perkembangan pertanian dewasa ini menunjukan kemajuan yang semakin pesat, namun demikian, banyak segi yang secara langsung atau tidak langsung dapat memacu pertumbuhan gulma, seperti penanaman dalam baris, jarak tanam yang lebar, mekanisasi, pengairan, penggunaan bahan-bahan kimia berupa pupuk dan pestisida. Berarti dengan meningkatnya intensifikasi pertanian maka masalah gulma tidaklah semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Keadaan suhu yang relatif tinggi, cahaya matahari yang melimpah, dan curah hujan yang cukup untuk daerah tropik juga mendorong gulma untuk tumbuh subur. Akibatnya gulma menjadi masalah dalam budidaya tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, perairan dan lahan non pertanian lainnya.
Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki menusia. Hal ini berarti tumbuhan tersebut merugikan baik secara langsung atau tidak langsung, atau bahkan kadang-kadang juga belum diketahui kerugian atau kegunaannya. Oleh karena itu, batasan untuk gulma ini sebetulnya sangat luas sehingga dapat mencakup semua jenis tanaman dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Jenis gulma yang tumbuh biasanya sesuai dengan kondisi perkebunan. Misalnya pada perkebunan yang baru diolah, maka gulma yang dijumpai kebanyakan adalah gulma semusim, sedang pada perkebunan yang elah lama ditanamai, gulma yang banyak terdapat adalah dari jenis tahunan.
Identifikasi berasal dari kata identik yang artinya sama atau serupa dengan, dan untuk ini kita dapat terlepas dari nama latin. Nama latin suatu gulma akan sangat berarti karena nama tersebut diterima di internasional. Sebagai contoh jika kita menyebutkan nama babandotan, ahli gulma india atau afrika bahkan mungkin yang berasal dari luar pulau jawa sering tidak mengetahuinya. Tetapi dengan menyebut nama latinnya atau Ageratum conyzoides, L. maka hamper dapat dipastikan orang-orang tersebut mengetahuinya. Atau jika tidak, maka mereka dengan mudah mencari informasi dengan berpegangan pada nama latin gulma tersebut. Nama latin suatu jenis gulma biasanya terdiri dari dua kata. Kata pertama menunjukkan marganya yang selalu dimulai dengan huruf besar sedangkan kata kedua menunjukkan jenis yang selalu dimulai dengan huruf kecil. Dibelakang nama tersebut terdapat pula singkatan nama orang yang pertama kali membuat determinasi jenis tersebut. Contoh : Panicum repens L. Huruf L adalah singkatan dari Linnaeus, seorang ahli tumbuh-tumbuhan dari swedia yang pertama kali membuat determinasi gulma P.repens.
Dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara dibawah ini :
1. Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi dengan herbarium.
2. Konsultasi langsung dengan ahli dibiddang bersangkutan.
3. Mencari sendiri dengan menggunakan kunci identifikasi.
4. Membandingkan dengan determinasi yang ada.
5. Membanduingkan dengan ilustrasi yang tersedia.

Untuk mengidentifikasi gulma dengan kata kunci tentunya kita harus memahami sifat-sifat generative dan vegetative dari gulma tersebut. Bagian vegetative gulma yang dapat dipakai sebagai factor identifikasi adalah akar, batang, dan daun.


B. TUJUAN

1. Mengetahui spesies gulma yang tumbuh mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya.
2. Mengetahui komposisi jenis gulma dan dominasi pada suatu vegetasi.











BAB II
TEORI DASAR


Identifikasi

Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilai negatif apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai daya guna manusia (Mangoensoekarjo 1983). Pengertian gulma adalah tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan tidak dikehendaki serta mempunyai nilai negative (Johnny, Martin. 2006).
Ada beberapa jenis gulma berdasarkan respon herbisida, termasuk gulma rumput. Rumputy mempunyai batang bulat atau pipih berongga. Kesamaannya dengan teki karena bentuk daunnya sama-sama sempit. Tetapi dari sudut pengendaliannya terutama responnya terhadap herbisida berbeda. Berdasarkan bentuk masa pertumbuhan dibedakan gulma rumput semusim (annual) dan tahunan (parennial). Rumput semusim tumbuh melimpah, tetapi kurang menimbulkan masalah dibandingkan gulma rumput tahunan.
Adanya berbagai definisi dan dekripsi gulma menunjukkan bahwa golongan gulma mempunyai kisaran karakter luas dan mempunyai konsekuensi dalam pemberantasan dan pengelolaannya. Dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara dibawah ini:
1. Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi di herbarium.
2. Konsultasi langsung dengan para ahli dibidang yang bersangkutan
3. Mencari sendiri melalui kunci identifikasi
4. Membandingkan dengan determinasi yang telah ada.
5. Membandingkan dengan ilustrasi yang tersedia

Cara identifikasi dengan membandingkan tumbuhan gulma dengan gambar paling praktis dan dapat dikerjakan sendiri di tempat, oleh karena telah banyak publikasi gambar dan foto-foto gulma. Dua publikasi gulma P3GI yang disebutkan pada alinia pertama bab ini, sangat berguna untuk keperluan tersebut. Identifikasi dengan membandingkan determinasi dari spesies gulma kemudian mencari dengan kunci identifikasi sedikit banyak kita harus memahami istilah biologi yang berkenaan dengan morfologi (Sastroutomo. 1990). Bila ada spesies gulma yang sukar diidentifikasi, maka herbarium gulma (lengkap daun, batang, bunga, bunga dan akarnya) tersebut dapat dikirim ke herbarium.
Tanda-tanda yang dipakai dalam identifikasi dan penelaahan spesies gulma; terbagi atas sifat-sifat vegetatif yang bisa berubah sesuai dengan lingkungan dan sifat-sifat generatif yang cenderung tetap.Sifat vegetatif gulma antara lain : perakaran, bagian batang dan cabangnya, kedudukan daun, bentuk daun, tepi daun dan permukaan daun, terdapat alat-alat tambahan misalnya daun penumpu atau selaput bumbung, beragam dan berbeda-beda untuk tiap spesies gulma. Bagian generatif yang dapat digunakan sebagai kriteria tanaman antara lain adalah : jumlah dan duduknya bunga, bagian-bagian bunga, warna kelopak bunga, warna mahkota bunga, jumlah benang sari, serta bentuk ukuran -warna-jumlah buah/biji (Steenis, van. 1981).
Identifikasi sangat penting terutama dalam memahami tanda-tanda karakteristik seperti yang berkenaan dengan morfologi (terutama morfologi luar) gulma. Dengan memahami karakteristik tersebut, dalam melakukan upaya pengendalian gulma akan lebih mudah. Disamping itu juga kita harus memperhatikan faktor-faktor lain, seperti misalnya iklim, jenis tanah, biaya yang diperlukan, dan pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkannya (Tjitrosoedirjdjo, 1984).

Analisis vegetasi

Komunitas gulma dalam suatu ekosistem akan tersusun dari berbagai macam spesies, menurut daur hidup, ciri morfologi dan cara hidupnya. Analisis vegetasi diperlukan untuk mengetahui komunitas gulma pada suatu lahan. Secara umum, analisis vegetasi bertujuan untuk :
1. Mengetahui susunan dan dominansi suatu gulma
2. Mengetahui keragaman komunitas gulma pada suatu lahan
3. Mengetahui suksesi gulma, yang dilakukan dari waktu ke waktu, karena susunan vegetasi mengalami perubahan sesuai dengan lingkungan.

Langkah awal yang ditempuh saat melakukan analisis vegetasi adalah pengambilan sample. Pengambilan sample dapat dilakukan secara langsung, tidak langsung, secara beraturan ataupun acak bertingkat. Metode pengambilan sample yang dilakukan pada praktikum ini adalah pengambilan sample secara langsung yaitu dengan cara melemparkan kerangka untuk menentukan letak petak contoh yang diperkirakan distribusi sampelnya dapat mewakili area (Tri Harso, 1994).
Cara klasifikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama (Anonim, 2008).
Triharso, 1994 dalam bukunya menerangkan bahwa Summed Dominance Ratio (SDR) suatu jenis adalah :
SDR = KM+DM+FM x 100%
3
Nilai KM (Kerapatan Mutlak) merupakan jumlah semua individu spesies itu dari semua sampel yang diambil. Kerapatan Nisbi dihitung dengan rumus :
KN = KM suatu spesies x 100%
KM semua spesies

Nilai DM (Domonansi Mutlak) merupakan jumlah angka kuantitatif apesies tertentu dari semua unit sampel yang diambil. Dominansi Nisbi dihitung dengan rumus :
DN = DM suatu spesies x 100%
DM semua spesies
Nilai FM (Frekuensi Mutlak) merupakan perbandingan antara jumlah unit sampel suatu spesies dengan jumlah seluruh sampel yang diambil. Frekuensi Nisbi dihitung dengan rumus:
FN = FM suatu spesies x 100%
FM semua spesies
Nilai Koefisien Komunitas (CK) suatu spesies adalah :

w = jumlah angka terendah dari pasangan SDR
a = semua SDR dari lokasi I
b = semua SDR dari lokasi II
BAB III
METODE PRAKTIKUM


A. Alat dan Bahan
1. Alat

a. Alat square method ukuran 50 cm x 50 cm
b. Buku deskripsi gulma dan herbarium
c. Kantong plastik
d. Alat tulis
e. Oven
f. Timbangan analitik
g. Kantong kertas

2. Bahan
a. Lahan sawah dan lahan kering
b. Air

B. Prosedur Kerja

1. Identifikasi
a. Petak sawah dengan ukuran 50 cm x 50 cm dibuat dengan alat square method pada lahan sawah dan lahan kering.
b. Diambil atau dicabut jenis gulma yang tumbuh pada petak tersebut lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik.
c. Jenis gulma yang ada diidentifikasi menggunakan buku deskripsi berdasarkan ciri morfologinya, dan tulislah nama spesimen morfologi dan perkembangbiakannya, daur hidupnya dan tempat tumbuhnya.
d. Jenis gulma berdasarkan golongan dipisahkan, yaitu rumput, teki tekian, dan daur lebar.



2. Analisis vegetasi
1. Petak sawah dengan ukuran 50 cm x 50 cm dibuat dengan alat square method pada lahan sawah dan lahan kering (menggunakan gulma pada acara identifikasi).
2. Ambil atau cabut semua gulma yang ada pada petak contoh tersebut (menggunakan gulma pada acara identifikasi).
3. Jumlah masing-masing gulma yang ada dihitung, kemudian dimasukkan dalam kantong kertas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 70°C sampai kering konstan.
4. Timbang masing-masing jenis gulma yang telah dikeringkan.
5. Kerapatan, frekuensi dan dominasi dihitung untuk masing-masing jenis gulma.























\

.BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan

Identifikasi gulma melalui klasifikasi tanaman pada tabel I, yaitu:

a. Digitaria ciliaces, rumput yang berumpun, yang pada pangkalnya kerapkali dengan batang yang merayap; tinggi 1 – 1.2 m. Batang pipih yang besar semakin ke bawah berongga. Pelepah daun tertekan jadi satu pada batang. Lidah sangat pendek. Helaian daun berbetnuk garis lanset atau garis, bertepi kasar, kerapkali keunguan. Bulir 2 – 22 per karangan bunga, tertancap pada ketinggian yang tidak sama. Poros bulir berlunas, panjang 2 – 21 cm. Anak bulir berseling kiri dan kanan dari poros, berdiri sendiri dan berpasangan tetapi dengan tangkai yang tidak sama panjang, ellips memanjang, rontok bersama-sama, panjang 2 – 4 mm. Rambut tepi dari sekam pada masaknya buah saling menjauh. Benang sari 3, kepala sari kuning atau ungu. Tangkai putik 2. kepala putik muncul dekat ujung dari pada anak bulir, ungu merah, jarang putih. Tumbuh-tumbuhan agak mudah berubah tumbuh pada segala macam keadaan tanah pada ketinggian 1 – 1800 m.

b. Brachiaria sp, digunakan untuk penggembalaan sapi di Florida Selatan. Pertumbuhan sujud-jenis kuat dan selama musim panas membuat penggembalaan rotasi direkomendasikan untuk padang rumput Brachiaria sp. Rotational merumput memfasilitasi penyesuaian tingkat penebaran optimum dan kontrol tinggi merumput jerami. Target tinggi jerami untuk penggembalaan Brachiaria sp, harus 6-10 inci (Stanley, TD and Ross, 1989).

c. Ottchloa nodosa, merupakan tanaman yg berbaring abadi, sampai dengan ca 45 cm, perakaran yang lebih rendah; node batang biasanya tidak bercabang, node glabrous atau dengan sedikit. Rambut "Daun selubung glabrous kecuali untuk marjin Ciliata; ligules pendek; pisau daun linear atau linear-bulat telur, 1,8 cm x 0,2-0,9 cm, gundul atau dengan beberapa pada dasar rambut. 15 Malai sampai dengan ca 20 cm, cabang primer 4-12, yang lebih rendah sampai dengan ca 15 cm, biasanya dengan percabangan sekunder, ini biasanya dengan beberapa spikelets; spikelets ca 3-3,5 mm, lebih rendah glume ca 1/3-1/2 selama gabah,, atas ca glume glabrous 1/2-2/3 selama gabah; bunga kecil yang lebih rendah dengan lemma glabrous; bunga kecil atas glabrous . Klasifikasi tanaman:
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Ottochloa
Spesies: Ottochloa nodosa

d. Ageratum conyzoides, herba satu tahun, tegak atau berbaring dan dari bagian ini keluar akarnya. Berasal dai Amerika tropis. Tinggi tanaman kurang lebih 1 – 1.2 m. Batang bulat, berambut jarang. Daun bawah berhadapan dan bertangkai cukup panjang, yang teratas tersebar dan bertangkai pendek. Helaian daun bulat telur, beringgit, panjang 1 – 10 kali 0.5 – 6 cm, kedua sisinya berambut panjang, sisi bawah juga dengan kelenjar yang duduk. Bongkol bunga berkelamin satu macam, 3 atau lebih berkumpul jadi karangan bunga bentuk malai rata yang terminal. Panjang bongkol 6 – 8 mm , pada tangkai berambut. Daun pembalut tersusun dalam 2 – 3 lingkaran, runcing, tidak sama, berambut sangat jarang atau gundul. Dasar bunga bersama tanpa sisik. Bunga sama panjang dengan pembalut. Mahkota dengan tabung sempit dan pinggiran sempit bentuk lonceng, berlekuk 5, panjang 1 – 1.5 mm. Buah keras bersegi llima, berwarna putih, dengan panjang 2 – 3.5 mm.

e. Eleusine indica, rumput berumur pendek, kerapkali berumpun kuat, kadang-kadang pada buku yang bawah keluar akar : batang kerapkali berbentuk cekungan yang terbentang; tinggi 0.1 – 1.9 m. Batang menempel pipih sekali, bergaris, kerap bercabang. Daun dalam dua baris. Pelepah daun menempel kuat bertulas. Lidah seperti selaput, pendek. Helaian bentuk garis dengan tepi kasar pada ujung, pada pangkalnya ada rambut panjang, 12 – 40 x 0.41 – 1 cm. Bulir terkumpul 2 – 12, satu sisi. Poros bulir bersayap dan berlunas, panjang 2.5 – 17 cm. Anak bulir berdiri sendiri, berseling kiri kanan lunas, duduk, rapat menutup secara genting, menempel rapat, panjang 4 – 7 mm. Sekam terekat rapat berlunas, dua yang terbawah tetap tinggal lama. Benang sari 3; kepala sari pendek. Tangkai putik 2; kepala putik sempit, ungu. Di tempat cerah matahari, kerapkali di tanah keras karena terinjak; 1 – 2000 m.



f. Amaranthus sp, yang dikenal sebagai bayam, adalah sebuah kosmopolitan genus jamuSekitar 60 spesies diakui, dengan perbungaan dan dedaunan mulai dari ungu dan merah untuk emas. Members of this genus share many characteristics and uses with members of the closely related genus Celosia . Anggota genus ini berbagi banyak karakteristik dan dan menggunakan dengan anggota yang terkait erat genus Celosia . Meskipun beberapa spesies sering dianggap gulma , orang di seluruh dunia sebagai nilai amaranths sayuran daun , sereal , dan tanaman hias. Sebuah pabrik makanan tradisional di Afrika, bayam memiliki potensi untuk memperbaiki gizi, meningkatkan ketahanan pangan , pembangunan pedesaan mendorong dan mendukung Landcare berkelanjutan.

g. Emilia sonchifolia, dikenal sebagai genus tasselflower lilac dari Emilia dan dari keluarga Asteraceae. Tanaman ini merupakan tanaman Afrika dalam keluarga Asteraceae dapat menyebabkan keracunan nitrat-nitrit.Klasifikasi tanaman:
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Emilia
Spesies: Emilia sonchifolia (L.) DC.

h. Cyperus rotundus, herba menahun, tinggi 0.1 – 0.8 m. Batang tumpul sampai persegi tiga tajam. Daun berjumlah 4 – 10 helai dan letaknya berjejal pada pangkal batang, dengan pelepah daun yang tertutup tanah, helaian daun bentuk garis, dari atas hijau tua mengkilat, 10 – 60 kali 0.2 – 0.6 cm. Anak bulir terkumpul menjadi bulir yang pendek dan tipis, dan keseluruhan terkumpul lagi menjadi berbentuk panjang. Daun pembalut berjumlah 3 – 4, tepi kasar, tidak merata. Jari jari payung 6 – 9, pangkal tertutup oleh daun pelindung yang berbentuk tabung, yang t erpanjang 3 – 10 cm, yang terbesar sekali lagi bercabang. Anak bulir 3 – 10 berkumpul dalam bulir, duduk, berbetnuk garis, sangat gepeng, coklat, panjang 1 – 3 cm, lebar 2 mm, berbunga 10 – 40. sekam dengan punggung hijau dan sisi coklat, panjang kurang lebih 3 mm. Benang sari 3, kepala sari kuning cerah. Tangkai putik bercabang 3. buah memanjang sampai bulat telur terbalik, persegi tiga, coklat, panjang kurang lebih 1.5 mm. Dapat tumbuh pada bermacam-macam keadaan tanah, dengan ketinggian 1 – 1000 m.
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Famili : Cyperaceae
Genus : Cyperus
Spesies : Cyperus rotundus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar